Kamis, 19 Desember 2013

budidaya lada



1.    Sejarah Lada   
Sejak lama tanaman lada telah dikenal sebagai tanaman rempah-rempah yang penting bagi Indonesia, walaupun bukan tanaman asli Indonesia namun lada merupakan komoditas pertama dari Indonesia yang diperdagangkan ke Eropa melalui Persia dan Arabia. Tanaman lada yang di import membantu perekonomian indonesia.


2.   Klasifikasi Tanaman Lada
Tanaman lada merupakan tanaman semusim yang berumur 4 bulan. Adapun klasifikasi dari tanaman lada adalah sebagai berikut :
Devisi                  : Spermatophyta
Sub Divisi            : Angiospermae
Kelas                  : Dicotyledoneae
Ordo                   : Piperales
Family                 : Piperaceae
Genus                  : Piper
Species               : Piper nigrum Linn
3.   Morfologi Tanaman Lada
Lada merupakan tanaman memenjat yang secara morfologi memiliki dua macam sulur yaitu sulur panjat dan cabang buah. Pertumbuhannya merambat pada pohon penunjang dan sifatnya epifit, secara umum morfologi tanaman lada adalah sebagai berikut :
a.       Akar
Sistem perakaran tanaman lada terdapat dua jenis, yakni :
1)   Akar yang terdapat di atas tanah.
Akar yang terdapat di atas tanah juga disebut akar lekat atau akar panjat. Akar lekat ini berguna melekat atau memanjat pada tajarnya, sehingga tanaman bisa tumbuh ke atas. Akar-akar lekat ini hanya tumbuh pada buku batang orthotrop, sedangkan pada cabang-cabang buah tidak akan tumbuh akar lekat.
2)   Akar yang terdapat didalam tanah
Akar yang terdapat didalam tanah juga disebut akar utama. Akar-akar ini selain tumbuh pada bukunya yang merupakan perpanjangan dari akar lekat, juga tumbuh pada bekas-bekas potongan batang. Akar utama tumbuh pada pangkal batang, sehingga pada suatu batang bisa terdapat 10-20 akar utama. Pada akar utama itu akan tumbuh akar samping dengan bulu akar yang banyak sekali. Bulu-bulu akar tersebut bisa berkembang di permukaan tanah dan berguna untuk menghisap makanan yang diperlukan. Apabila keadaan tanah memungkinkan, maka akar itu akan dapat menembus tanah sedalam 2-4 m. Tetapi pada umumnya system perakaran lada cukup dangkal hanya mencapai kedalaman antara 30-60 cm.
  
b.      Batang
Tanaman lada mempunyai satu batang pokok dengan dua macam cabang, yaitu cabang orthotrop (vertikal) dan plagiotrop (horizontal). Cabang-cabang orthotrop tumbuh membentuk kerangka dasar pohon lada, mengayu, dan beruas dengan panjang rata-rata 5-12 cm. Cabang plagiotrop dengan akar pelekat terbentuk dari buku antar ruas yang pertumbuhannya agak membengkak. Dari buku tersebut, tumbuh sehelai daun dan kuntum yang selanjutnya tumbuh menjadi cabang. Berbeda dengan orthotrop, cabang plagiotrop dapat berbunga dan berbuah. Buku-buku cabang plagiotrop lateral tidak berakar sehingga perbanyakannya menggunakan sulur panjat untuk lada panjat dan menggunakan cabang buah untuk lada perdu bertapak dan tidak bertapak.

c.       Daun
Daun lada berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing, tunggal serta bertangkai daun 2-5 cm, dan membentuk aluran di bagian atasnya. Daun berwarna hijau tua. Bagian atas daun mengkilap, sedangkan bagian bawah berwarna pucat dengan titik kelenjar.

d.      Bunga
Bagian-bagian yang dapat berbunga hanyalah cabang-cabang plagiotrop atau cabang buah. Bunga-bunga itu tumbuh pada malai bunga, sedangkan malai bunga itu sendiri tumbuh pada ruas-ruas cabang buah yang berhadap-hadapan dengan daun. Sebagaimana bunga yang lain, maka bunga lada juga mempunyai bagian, antara lain :
1)      Tajuk Bunga (dasar bunga)
Tajuk bunga ini berwarna hijau atau melekat pada malai. Apabila sudah tumbuh buah, tajuk ini akan merupakan dasar buah atau tempat duduk buah, karena buahnya tidak bertangkai.
2)      Mahkota Bunga
Mahkota bunga berwarna kuning kehijau-hijauan dan tumbuh pada dasar bunga. Bentuknya sangat kecil dan halus, sedangkan beberapa hari setelah terjadi penyerbukan maka daun bunga itu akan layu dan akhirnya mengering.
3)      Putik
Putik adalah alat betina, bagian ini merupakan terusan dari ovarium. Putik terdiri dari Ovarium yang mengandung sebuah sel telur yang berdiri tegak dan bertangkai pendek. Bakal buah yang dilengkapi dengan tangkai kepala putik  dengan bentuk bintang yang terdapat 35 tangkai. Setiap tangkai panjangnya 1 mm serta terdapat kepala putik basah dengan garis tengah 10 mu (1 mu=1/1000 mm).
4)      Benang Sari
Benang sari adalah alat jantan, terdiri dari 2 atau 4 tangkai benang sari dan kepala benang sari. Di dalam kepala benang sari terdapat tepung sari yang berguna untuk menyerbuk putik-putik. Tangkai benang sari panjangnya 1 mm, sedangkan kepala benang sari besarnya 10 mu dan bundar. Karena bunga lada memiliki putik dan benang sari, maka disebut bunga sempurna atau berumah satu. Malai yang tumbuh lebih dulu adalah malai yang dekat pucuk-pucuk cabang buah, kemudian disusul malai bawahannya. Selanjutnya apabila semua ruas cabang buah itu sudah tumbuh beberapa malai, maka malai itu akan mengarah ke bawah atau menggantung. Tiap malai bunga panjangnya 7-12 cm, dan tumbuh bunga maksimal 150.

e.       Buah
Buah lada merupakan hasil produksi dari  tanaman lada. Buah lada mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut :
Bentuk dan warna buah lada, bulat dan kalau masih mudah berwarna hijau sedangkan bila sudah tua berwarna merah, bijinya keras dan kulit buah  lunak berlendir dan rasanya manis.
1)      Kedudukan Buah
Buah lada merupakan buah duduk, yang melekat pada malai. Diameter buah  4-6 mm, sedangkan diameter biji 3-4 mm. berat 100 biji ± 38 gram.
2)      Keadaan kulit buah atau pericarp terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a)    Epicarp ( kulit luar )
b)   Mesocarp ( kulit tengah )
c)    Endocarp ( kulit dalam )

f.        Biji
Di dalam kulit ini terdapat biji-biji yang merupakan produk dari lada, biji-biji ini juga mempunyai lapisan kulit yang keras.
g.       Cabang
Cabang buah tumbuh dari ruas sulur panjat secara horizontal/ menggantung, sedangkan cabang yang masih muda vertikal. Cabang buah berbuku-buku terdiri dari cabang primer, cabang sekunder dan cabang tersier. Cabang primer tumbuh dari sulur panjat, sedangkan cabang sekunder tumbuh dari cabang primer dan cabang tersier tumbuh dari cabang primer.
4.    Pembibitan Tanaman Lada
a.      Pembuatan Rumah Atap
Rumah atap / saung persemaian adalah tempat untuk melaksanakan kegiatan penyemaian atau pembibitan agar terlindung dari terik sinar matahari dan hujan sehingga bibit bisa tumbuh dengan baik. Rumah atap dibangun berdekatan dengan sumber air dan lokasi kebun yang akan ditanami. Rumah atap dibuat dengan tinggi atap sebelah timur 2 meter dan bagian barat 1,75 meter. Atap dapat dibuat dari anyaman alang – alang, daun kelapa atau rumbia yang disusun rapi. Di sekeliling rumah atap dibuat pagar untuk menghindari gangguan ternak. Atap dapat meloloskan 40 – 50% sinar matahari ke dalam rumah atap tersebut. Sekeliling rumah atap pada bagian pagar dibuat saluran pembuangan air untuk mencegah genangan air waktu hujan.

b.      Pembuatan Sungkup
Di dalam rumah atap dibangun kerangka sungkup dari bambu yang dibuat melengkung membentuk setengah lingkaran. Kerangka berukuran lebar 1,0 meter, tinggi 0,6 meter sedangkan panjang disesuaikan dengan rumah atap. Bila kerangka sungkup dibuat banyak dan sejajar, maka jarak antar sungkup diusahakan 0,75 meter. Pembuatan sungkup bertujuan untuk menjaga suhu mikro disekitar tanaman dengan suhu didalam sungkup harus konstan, untuk mempercepat pertumbuhan tunas, untuk menyeragamkan pertumbuhan tanaman, dan untuk mengatur cahaya matahari.
c.       Persiapan Media Tanam
1)   Pembuatan media tanam, pengisian polybag, dan penyusunan didalam sungkup
Media tanam yang akan diisikan ke dalam polybag berupa campuran tanah yang sudah halus dan pupuk kandang yang sudah matang dengan perbandingan 2 : 1. Bahan – bahan tersebut diaduk kemudian dimasukkan ke dalam polybag yang berukuran lebar 15 cm, tinggi 20 – 25 cm. Untuk memadatkan media dalam polybag,  bagian bawah polybag tersebut dijatuhkan berulang – ulang ke tanah hingga polybag terisi penuh dengan tanah. Polybag yang sudah terisi lalu disusun di dalam  kerangka sungkup secara teratur dan rapi. Selanjutnya dilakukan penyiraman dengan larutan fungisida berbahan aktif mankozeb  0,2 % agar media steril ( bebas dari penyakit ) dan stabil. Media dibiarkan beberapa hari sebelum ditanami atau sampai tumbuh gulma – gulma.
d.      Seleksi Pohon Induk
Adapun syarat untuk memilih pohin induk yang baik adalah :
-        Pohon induk harus subur dan sehat
-        Pohon induk yang sudah berproduksi
-        Pohon induk tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda
-        Pohon induk bebas dari hama dan penyakit
-        Pohon induk dari varietas yang unggul 
  
e.      Pengambilan Bahan Tanam
Bahan tanam diambil dari sulur yang berasal dari pohon induk yang baik dengan panjang 1 meter dengan ukuran sulur tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dan potong bagian pucuk sekitar 20 cm ( topping ).

f.        Penyetekan
Penyetekan dilakukan pada tanaman lada yang telah dipilih pada tanaman induk. Tanaman yang stek direndam dalam larutan fungisida Dithane dan antracol dengan dosis 20 gram. Tanaman yang telah di stek dan direndam di tanam pada media yang terbuat dari campuran pupuk kandang dan tanah.
 
g.      Penyemaian
Penyemaian dilakukan agar tersedia bibit yang unggul sebelum ditanam dilahan. Setek cabang buah yang sudah siap dicelup dalam larutan Rootone f kemudian ditanam tegak lurus kedalam polybag sampai kedalaman 5-10cm sehingga menutupi akar. Selanjutnya, tanahnya ditekan agar terjadi kontak antara setek dengan media tumbuh dan tidak terdapat kantong udara. Sebelum sungkup ditutup dilakukan penyemprotan larutan fungisida 0,2% untuk menjaga kelembaban udara dalam sungkup. Setelah cukup basah sungkup segera ditutup dan dibuka sesuai demgan perlakuan yang diuji.

h.      Pemeliharaan Bibit Lada
Bibit di persemaian juga harus dijaga agar kelembapan relatif berada pada kisaran 70 – 80 %  dan suhu anatara 25 – 27oC. Dengan tujuan agar bibit dipersemaian tumbuh dengan baik. Pemeliaharan dipersemaian dilakukan 4 – 6 bulan atau setelah memiliki 5 – 7 ruas atau lebih.

1)   Penyortiran
Penyortiran bibit adalah memisahkan bibit yang sudah tumbuh dan bibit yang belum tumbuh. Bibit yang sudah tumbuh dibersihkan dari gulma dan dipisahkan dari bibit yang belum tumbuh.

2)   Pemasangan Setik
Pemasangan setik bertujuan untuk membantu merangsang pertumbuhan akar dan membantu tanaman menempel pada setik. Setik dibuat dari bilahan bambu yang dipotong – potong dengan ukuran 70 cm. Cara pemberian setik yaitu ditancapkan kedalam polybag, lalu akar tanaman diletakan pada setik lalu diikat.

3)   Penyiraman
Penyiraman dipersemaian dilakukan 3 hari sekali pada waktu pagi dan sore hari.
4)   Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk membantu pertumbuhan tanaman agar tumbuh baik dan subur. Dan pupuk yang digunakan pada waktu dipersemaian yaitu pupuk gandasil atau pupuk daun dengan dosis 1 gram/ liter dengan interval 10 hari sekali.
5)   Hama dan Penyakit
Hama utama yang sering menyerang tanaman lada dipersemaian adalah Lophobaris piperis menyerang bagian pucuk tanaman dan kutu (aphis), biasanya menghisap cairan sehingga menyebabkan tanaman menjadi keriting. Kutu ini bersimbiose dengan semut merah. Penyakit pada tanaman lada pada waktu dipersemaian adalah busuk pangkal batang.
6)   Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit pada tanaman lada biasanya diberantas dengan menggunakan dithane dan dicis. Dithane 45 / dan dilarutkan dengan air didalam sprayer, lalu setelah itu disemprotkan ke tanaman yang terserang hama dan penyakit. Sebaiknya tanaman yang terserang penyakit dipisahkan agar tidak menular ke tanaman yang lainnya.
i.        Panen/ Packing
Bibit lada yang telah berumur 6 bulan sudah bisa ditanam. Jadi pada umur 6 bulan bibit lada sudah bisa di pasarkan. Cara packing bibit lada :
1)            Terlebih dahulu sebagian tanah didalam polybag dikeluarkan
2)            Kemudian tanah dikepalkan ke bagian akar tanaman
3)            Lalu ikat bagian atas polybag dengan tali rafia
4)            Susun polybag di dalam wadah/kardus dengan rapih








Tidak ada komentar:

Posting Komentar