1. Sejarah Lada
Sejak lama tanaman lada telah dikenal sebagai
tanaman rempah-rempah yang penting bagi Indonesia, walaupun bukan tanaman asli
Indonesia namun lada merupakan komoditas pertama dari Indonesia yang
diperdagangkan ke Eropa melalui Persia dan Arabia. Tanaman lada yang di import membantu
perekonomian indonesia.
2. Klasifikasi Tanaman Lada
Tanaman lada merupakan tanaman semusim
yang berumur 4 bulan. Adapun klasifikasi dari tanaman lada adalah sebagai
berikut :
Devisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas :
Dicotyledoneae
Ordo :
Piperales
Family :
Piperaceae
Genus :
Piper
Species : Piper nigrum Linn
3. Morfologi Tanaman Lada
Lada merupakan tanaman memenjat yang secara
morfologi memiliki dua macam sulur yaitu sulur panjat dan cabang buah.
Pertumbuhannya merambat pada pohon penunjang dan sifatnya epifit, secara umum
morfologi tanaman lada adalah sebagai berikut :
a. Akar
Sistem
perakaran tanaman lada terdapat dua
jenis, yakni :
1)
Akar yang
terdapat di atas tanah.
Akar yang terdapat di atas tanah juga disebut akar
lekat atau akar panjat. Akar lekat ini berguna melekat atau memanjat pada
tajarnya, sehingga tanaman bisa tumbuh ke atas. Akar-akar lekat ini hanya
tumbuh pada buku batang orthotrop, sedangkan pada cabang-cabang buah tidak akan
tumbuh akar lekat.
2)
Akar yang
terdapat didalam tanah
Akar yang terdapat didalam tanah juga disebut akar
utama. Akar-akar ini selain tumbuh pada bukunya yang merupakan perpanjangan
dari akar lekat, juga tumbuh pada bekas-bekas potongan batang. Akar utama
tumbuh pada pangkal batang, sehingga pada suatu batang bisa terdapat 10-20 akar
utama. Pada akar utama itu akan tumbuh akar samping dengan bulu akar yang
banyak sekali. Bulu-bulu akar tersebut bisa berkembang di permukaan tanah dan
berguna untuk menghisap makanan yang diperlukan. Apabila keadaan tanah
memungkinkan, maka akar itu akan dapat menembus tanah sedalam 2-4 m. Tetapi
pada umumnya system perakaran lada cukup dangkal hanya mencapai kedalaman
antara 30-60 cm.
b.
Batang
Tanaman lada mempunyai satu batang pokok dengan dua
macam cabang, yaitu
cabang orthotrop (vertikal)
dan plagiotrop (horizontal). Cabang-cabang orthotrop
tumbuh membentuk kerangka dasar pohon lada, mengayu, dan beruas dengan
panjang rata-rata 5-12 cm.
Cabang
plagiotrop dengan akar pelekat terbentuk dari buku antar ruas yang
pertumbuhannya agak membengkak.
Dari
buku tersebut, tumbuh
sehelai daun dan kuntum yang selanjutnya tumbuh menjadi cabang. Berbeda dengan
orthotrop, cabang
plagiotrop dapat berbunga dan berbuah. Buku-buku cabang plagiotrop lateral
tidak berakar sehingga perbanyakannya menggunakan sulur panjat untuk lada panjat dan menggunakan
cabang buah untuk lada perdu bertapak
dan tidak bertapak.
c. Daun
Daun lada berbentuk bulat telur
dengan ujung meruncing, tunggal
serta bertangkai daun 2-5 cm,
dan
membentuk aluran di bagian atasnya.
Daun
berwarna hijau tua. Bagian
atas daun mengkilap, sedangkan bagian bawah
berwarna pucat dengan titik kelenjar.
d. Bunga
Bagian-bagian
yang dapat berbunga hanyalah cabang-cabang plagiotrop atau cabang buah.
Bunga-bunga itu tumbuh pada malai bunga, sedangkan malai bunga itu sendiri
tumbuh pada ruas-ruas cabang buah yang berhadap-hadapan dengan daun.
Sebagaimana bunga yang lain, maka bunga lada juga mempunyai bagian, antara lain
:
1) Tajuk Bunga (dasar bunga)
Tajuk bunga ini
berwarna hijau atau melekat pada malai. Apabila sudah tumbuh buah, tajuk ini
akan merupakan dasar buah atau tempat duduk buah, karena buahnya tidak
bertangkai.
2)
Mahkota Bunga
Mahkota bunga
berwarna kuning kehijau-hijauan dan tumbuh pada dasar bunga. Bentuknya sangat
kecil dan halus, sedangkan beberapa hari setelah terjadi penyerbukan maka daun
bunga itu akan layu dan akhirnya mengering.
3)
Putik
Putik adalah
alat betina, bagian ini merupakan terusan dari ovarium. Putik terdiri dari
Ovarium yang mengandung sebuah sel telur yang berdiri tegak dan bertangkai
pendek. Bakal buah yang dilengkapi dengan tangkai kepala putik dengan bentuk bintang yang terdapat 35
tangkai. Setiap tangkai panjangnya 1 mm serta terdapat kepala putik basah
dengan garis tengah 10 mu (1 mu=1/1000 mm).
4)
Benang Sari
Benang sari
adalah alat jantan, terdiri dari 2 atau 4 tangkai benang sari dan kepala benang
sari. Di dalam kepala benang sari terdapat tepung sari yang berguna untuk
menyerbuk putik-putik. Tangkai benang sari panjangnya 1 mm, sedangkan kepala
benang sari besarnya 10 mu dan bundar. Karena bunga lada memiliki putik dan
benang sari, maka disebut bunga sempurna atau berumah satu. Malai yang tumbuh
lebih dulu adalah malai yang dekat pucuk-pucuk cabang buah, kemudian disusul
malai bawahannya. Selanjutnya apabila semua ruas cabang buah itu sudah tumbuh
beberapa malai, maka malai itu akan mengarah ke bawah atau menggantung. Tiap
malai bunga panjangnya 7-12 cm, dan tumbuh bunga maksimal 150.
e. Buah
Buah lada
merupakan hasil produksi dari tanaman
lada. Buah lada mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut :
Bentuk dan warna
buah lada, bulat dan kalau masih mudah berwarna hijau sedangkan bila sudah tua
berwarna merah, bijinya keras dan kulit buah
lunak berlendir dan rasanya manis.
1) Kedudukan Buah
Buah
lada merupakan buah duduk, yang melekat pada malai. Diameter buah 4-6 mm, sedangkan diameter biji 3-4 mm. berat
100 biji ± 38 gram.
2) Keadaan kulit buah atau pericarp terdiri dari tiga
bagian, yaitu :
a) Epicarp ( kulit luar )
b) Mesocarp ( kulit tengah )
c) Endocarp ( kulit dalam )
f.
Biji
Di dalam kulit ini terdapat biji-biji yang merupakan
produk dari lada, biji-biji ini juga mempunyai lapisan kulit yang keras.
g. Cabang
Cabang buah tumbuh dari ruas sulur
panjat secara horizontal/ menggantung, sedangkan cabang yang masih muda
vertikal. Cabang buah berbuku-buku terdiri dari cabang primer, cabang sekunder
dan cabang tersier. Cabang primer tumbuh dari sulur panjat, sedangkan cabang
sekunder tumbuh dari cabang primer dan cabang tersier tumbuh dari cabang
primer.
4.
Pembibitan Tanaman Lada
a. Pembuatan
Rumah Atap
Rumah atap / saung persemaian adalah tempat untuk melaksanakan
kegiatan penyemaian atau pembibitan agar terlindung dari terik sinar matahari
dan hujan sehingga bibit bisa tumbuh dengan baik. Rumah atap dibangun
berdekatan dengan sumber air dan lokasi kebun yang akan ditanami. Rumah atap dibuat
dengan tinggi atap sebelah timur 2 meter dan bagian barat 1,75 meter. Atap
dapat dibuat dari anyaman alang – alang, daun kelapa atau rumbia yang disusun
rapi. Di sekeliling rumah atap dibuat pagar untuk menghindari gangguan ternak.
Atap dapat meloloskan 40 – 50% sinar matahari ke dalam rumah atap tersebut.
Sekeliling rumah atap pada bagian pagar dibuat saluran pembuangan air untuk
mencegah genangan air waktu hujan.
b. Pembuatan Sungkup
Di dalam rumah atap dibangun kerangka sungkup dari
bambu yang dibuat melengkung membentuk setengah lingkaran. Kerangka berukuran
lebar 1,0 meter, tinggi 0,6 meter sedangkan panjang disesuaikan dengan rumah
atap. Bila kerangka sungkup dibuat banyak dan sejajar, maka jarak antar sungkup
diusahakan 0,75 meter. Pembuatan sungkup bertujuan untuk menjaga suhu mikro
disekitar tanaman dengan suhu didalam sungkup harus konstan, untuk mempercepat
pertumbuhan tunas,
untuk menyeragamkan pertumbuhan tanaman, dan untuk mengatur cahaya
matahari.
c. Persiapan
Media Tanam
1) Pembuatan
media tanam, pengisian polybag, dan penyusunan didalam sungkup
Media tanam
yang akan diisikan ke dalam polybag berupa campuran tanah yang sudah halus dan
pupuk kandang yang sudah matang dengan perbandingan 2 : 1. Bahan – bahan
tersebut diaduk kemudian dimasukkan ke dalam polybag yang berukuran lebar 15
cm, tinggi 20 – 25 cm. Untuk memadatkan media dalam polybag, bagian bawah polybag tersebut dijatuhkan
berulang – ulang ke tanah hingga polybag terisi penuh dengan tanah. Polybag
yang sudah terisi lalu disusun di dalam
kerangka sungkup secara teratur dan rapi. Selanjutnya dilakukan
penyiraman dengan larutan fungisida berbahan aktif mankozeb 0,2 % agar media steril ( bebas dari penyakit
) dan stabil. Media dibiarkan beberapa hari sebelum ditanami atau sampai tumbuh
gulma – gulma.
d. Seleksi
Pohon Induk
Adapun syarat untuk memilih pohin induk yang baik adalah :
-
Pohon induk
harus subur dan sehat
-
Pohon induk yang
sudah berproduksi
-
Pohon induk
tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda
-
Pohon induk
bebas dari hama dan penyakit
-
Pohon induk dari
varietas yang unggul
e. Pengambilan
Bahan Tanam
Bahan tanam diambil dari sulur yang berasal
dari pohon induk yang baik dengan panjang 1 meter dengan ukuran sulur tidak
terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dan potong bagian pucuk sekitar 20 cm (
topping ).
f.
Penyetekan
Penyetekan dilakukan pada tanaman lada yang
telah dipilih pada tanaman induk. Tanaman yang stek direndam dalam larutan
fungisida Dithane dan antracol dengan dosis 20 gram. Tanaman yang telah di stek
dan direndam di tanam pada media yang terbuat dari campuran pupuk kandang dan
tanah.
g. Penyemaian
Penyemaian dilakukan agar tersedia bibit yang
unggul sebelum ditanam dilahan. Setek cabang buah yang sudah siap dicelup dalam larutan Rootone f kemudian
ditanam tegak lurus kedalam polybag sampai kedalaman 5-10cm sehingga menutupi
akar. Selanjutnya, tanahnya ditekan agar terjadi kontak antara setek dengan
media tumbuh dan tidak terdapat kantong udara. Sebelum sungkup ditutup
dilakukan penyemprotan larutan fungisida 0,2% untuk menjaga kelembaban udara
dalam sungkup. Setelah cukup basah sungkup segera ditutup dan dibuka sesuai
demgan perlakuan yang diuji.
h. Pemeliharaan
Bibit Lada
Bibit di persemaian juga harus dijaga agar
kelembapan relatif berada pada kisaran 70 – 80 % dan suhu anatara 25 – 27oC. Dengan
tujuan agar bibit dipersemaian tumbuh dengan baik. Pemeliaharan dipersemaian
dilakukan 4 – 6 bulan atau setelah memiliki 5 – 7 ruas atau lebih.
1) Penyortiran
Penyortiran
bibit adalah memisahkan bibit yang sudah tumbuh dan bibit yang belum tumbuh.
Bibit yang sudah tumbuh dibersihkan dari gulma dan dipisahkan dari bibit yang
belum tumbuh.
2) Pemasangan Setik
Pemasangan
setik bertujuan untuk membantu merangsang pertumbuhan akar dan membantu tanaman
menempel pada setik. Setik dibuat dari bilahan bambu yang dipotong – potong
dengan ukuran 70 cm. Cara pemberian setik yaitu ditancapkan kedalam polybag,
lalu akar tanaman diletakan pada setik lalu diikat.
3) Penyiraman
Penyiraman
dipersemaian dilakukan 3 hari sekali pada waktu pagi dan sore hari.
4) Pemupukan
Pemupukan
bertujuan untuk membantu pertumbuhan tanaman agar tumbuh baik dan subur. Dan
pupuk yang digunakan pada waktu dipersemaian yaitu pupuk gandasil atau pupuk
daun dengan dosis 1 gram/ liter dengan interval 10 hari sekali.
5) Hama dan Penyakit
Hama utama
yang sering menyerang tanaman lada dipersemaian adalah Lophobaris piperis
menyerang bagian pucuk tanaman dan kutu (aphis), biasanya menghisap cairan
sehingga menyebabkan tanaman menjadi keriting. Kutu ini bersimbiose dengan
semut merah. Penyakit pada tanaman lada pada waktu dipersemaian adalah busuk
pangkal batang.
6)
Pengendalian
Hama dan Penyakit
Hama dan
penyakit pada tanaman lada biasanya diberantas dengan menggunakan dithane dan
dicis. Dithane 45 / dan dilarutkan
dengan air didalam sprayer, lalu setelah itu disemprotkan ke tanaman yang
terserang hama dan penyakit. Sebaiknya tanaman yang terserang penyakit
dipisahkan agar tidak menular ke tanaman yang lainnya.
i.
Panen/ Packing
Bibit lada
yang telah berumur 6 bulan sudah bisa ditanam. Jadi pada umur 6 bulan bibit
lada sudah bisa di pasarkan. Cara packing bibit lada :
1)
Terlebih dahulu
sebagian tanah didalam polybag dikeluarkan
2)
Kemudian tanah
dikepalkan ke bagian akar tanaman
3)
Lalu ikat bagian
atas polybag dengan tali rafia
4)
Susun polybag di
dalam wadah/kardus dengan rapih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar